CINTA

Satu hal yang Aku tidak Suka dengan Cinta, adalah Semakin Aku Menyangkalnya Semakin Dia Membuatku Jatuh Cinta

HARAPAN

Jika Kamu Memfokuskan Dirimu Pada Apa yang Tertinggal di Masa Lalu, Maka Kamu Tak Akan Pernah Bisa Melihat Apa yang Ada Di Depanmu

MASALAH

Menghindari Masalah Yang Kamu Hadapi itu, Sama Seperti Kamu Menghindari Kehidupan yang Harus Dijalani

PENYESALAN

Jangan Menyalahkan Atas Keinginan Apapun yang Tak Terwujud. Daripada Menunggu, Lebih Baik Kamu Berusaha Mewujudkannya

FAHAMI

Kalian Mungkin Mengenaliku, Tapi Tidak Memahamiku Sepenuhnya

INFO ANYAR | UAS Mata Kuliah Hukum Bisnis dilaksanakan tanggal 10-06-2016 pukul 14.00 - 15.30 | RKAKL Online Klik Disini | Chek in Online Garuda Klik Disini | Cek Garuda Miles Klik Disini | Materi MK Hukum Bisnis, Lihat Pada Menu Materi Kuliah Hkm. Bisnis |

Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Photography. Tampilkan semua postingan

19 Maret 2012

Belajar Photography, Point of Interest (POI)

Berawal dari evaluasi mas Rana Galih, bahwa menurutnya, beberapa foto yang aku upload memiliki nilai POI. Aku sempet lama agak lama mikir...nah..makanan seperti apa POI itu. Untuk tau maknanya, ternyata gak boleh malu...dan akupun bertanya sama mas Rana "apa sih POI"

Yah...meskipun belajar secara autodidak, tetap saja harus berpegang pada ilmu. Tanpa ilmu layaknya perjalanan jauh tanpa bekal, ada yang menggambarkan orang yang tidak mau mencari ilmu adalah seorang yang angkuh karena dia akan selalu memandang rendah terhadap yang lain.

Ehhmm …. begitulah kira-kira, karena sebenarnya manusia hidup untuk menghidupi yang lain, manusia berilmu untuk memberikan ilmu pada yang lain, manusia berpunya untuk memberi kepada yang lain.

Dalam hal apa saja, berilmu itu wajib hukumnya. Begitu pula dalam dunia fotografi. Ternyata emang benar, banyak orang yang bisa mempunyai kamera tetapi sedikit yang bisa memotret. Tidak semua hasil bidikan kamera mempunyai jiwa. Hal ini aku pelajari setelah aku meng-upload hasil bidikan fotoku ke http://www.fotografer.net/isi/galeri/. Disini aku mendapatkan kritik yang membangun. Dari kritik-kritik tersebut aku belajar, hal pertama yang aku pelajari adalah tentang POI (Point Of Interest).

POI adalah bagaimana kita bisa menyampaikan tema atau pemikiran kita tentang objek foto kita. Menonjolkan satu objek untuk mendapatkan perhatian dari pemirsa sehingga dengan sekali melihat maka pemirsa tahu apa dan siapa yang hendak kita sampaikan. Disini POI ternyata mempunyai kedudukan yang penting jika hendak menyampaikan misi suatu foto. Fungsi POI kata mas Budi Darmawan adalah membantu penikmat hasil foto kita untuk menemukan “apa sih sebenernya” yang ingin kita sampaikan pada mereka. Ada titik untuk berhenti ketika pemirsa menikmati foto kita. Kita bisa menetapkan POI dari apa saja (benda hidup atau mati), yang penting ia sesuatu yang unik dibandingkan dengan seluruh elemen dalam foto kita. Banyak fotografer landscape profesional menentukan POI berdasarkan : uniknya bentuk suatu benda; warnanya yang cerah/berbeda ; manusia ; kecerahan

POI bisa di dapatkan dengan cara memusatkan objek yang kita foto lebih menonjol. Setelah sering-sering membaca di forum dan sering-sering belajar dengan cara memperhatikan foto-foto yang masuk kategori ‘matang’ maka ada beberapa cara menonjolkan POI kita, diantaranya yaitu:
  1. Memperhatikan komposisi dan porsi objek dalam foto. Bagaimana cara kita menempatkan suatu objek itulah yang menentukan bagaimana kita nanti menyajikan apa yang ingin kita sampaikan dalam suatu foto.
  2. Melakukan cropping, lakukan cropping untuk membuang latar yang tidak diperlukan atau bahkan akan menyaingi POI kita.
  3. Melakukan bluring, untuk kamera DSLR tentu ada settingan manual yang bisa untuk membuat bokeh alias blur BG, dalam bahasa kerennya di sebut DOF (pengaturan ketajaman dalam foto). Tetapi untuk kamera saku yang versi sederhana, bluring bisa dilakukan dengan bantuan software pengolah foto. Dalam hal ini adobe potoshop adalah sahabatku ketika aku butuh tampil lebih oke. hehe …

16 Juni 2011

Mengena Istilah Exposur dalam Dunia Photography

Jujur saja, bagi saya yang baru mau memulai memahami dunia Photography, istilah ini sangat baru dan asing. Selama ini, saya tidak pernah membaca istilah-istilah yang berkaitan dengan dunia ini. Saya cuman melakukan dan mengambil objek foto, itu saja. Saya lihat bagus hasilnya, buat saya...sementara itu cukup.

Tapi ternnyata, itu saja gak cukup. Banyak hal yang harus saya pelajari untuk bisa mendapatkan hasil foto yang memiliki nilai seni yang tinggi

Exposure yang tepat sangat penting dalam mendapatkan mutu foto yang bagus. Banyak orang terjebak dalam filosofi “nanti bisa diperbaiki di komputer”. Seharusnya itu dijadikan sebagai senjata pemungkas, tatkala apa yang anda pikirkan atau konsepkan tidak bisa sepenuhnya diciptakan dengan kamera anda.

Memperbaiki foto di komputer sebetulnya bukanlah jawaban yang paling tepat. Dalam kenyataannya, setiap penyesuaian tone yang dilakukan di komputer, membuat foto lebih terang ataupun lebih gelap, menambah kontras, cropping, dst., akan mengurangi jumlah pixel penyusun foto. Jadi sebetulnya, olah digital itu hanya akan menurunkan mutu gambar karena akan membuang beberapa komponen data.

Jadi hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah melakukannya di kamera, memotret dengan setingan yang benar sesuai dengan konsep yang diinginkan.

Metering
Meter di kamera di design agar bisa mengukur kekuatan cahaya di sekitar objek, dan memberikan informasi kombinasi setingan shutter speed dan aperture agar didapatkan exposure yang paling tepat.

Meter di kamera membaca semua data tonal scence objek, seperti seberapa gelap dan seberapa terang, dan secara rata-rata akan disajikan dalam sebuah saran exposure setting berupa garis dengan grafik yang berubah-ubah saat kamera diarahkan ke tempat terang atau gelap. Meter kamera mencoba menemukan nilai rata-rata, dengan pendekatan ke nilai 18% tone abu-abu. Dan memang terbukti, untuk kebanyakan situasi, meter kamera cukup bisa diandalkan.

Tipe-tipe metering
Ada 3 tipe metering:

1. Matrix atau evaluative metering
Tipe metering ini membagi scene ke dalam beberapa (atau banyak) segmen yang masing-masing oleh kamera akan dianalisa brightness-nya dan kemudian dibandingkan dengan sebuah database yang sudah diprogram sebelumnya – database ini berisi ribuan type photographic scences. Dan hebatnya, semua itu bisa dilakukan oleh kamera dalam waktu singkat, bahkan instant. Matrix/Evaluate metering modes, cukup bisa diandalkan, pengukurannya cukup akurat dan sangat berguna khususnya saat di situasi anda menggunakan mode auto-exposure, atau di saat situasi cahaya sering berubah-ubah.

2. Spot Metering
Spot meter membaca brightness dari sebuah titik di tengah-tengah frame. Dengan mode ini, memungkinkan anda untuk medapatkan informasi exposure yang tepat dari sebuah area yang kecil. Spot metering sangat tepat untuk anda yang sudah terbiasa dengan pilihan mode manual saat memotret, dan punya waktu untuk presisi pengukuran yang sangat akurat.

3. Incident Metering
Yang dimaksudkan dengan incident metering adalah sebuah alat tambahan yang fungsinya khusus mengukur cahaya di objek. handheld meter ini dapat memberikan pengukuran cahaya yang jauh lebih akurat daripada apa yang kebanyakan kamera bisa sajikan. Alat semacam ini juga bisa mengukur meter dari sinar-sinar ambient dari scene. Dan alat itu akan menginformasikan setting seperti apa yang perlu anda lakukan di kamera.

Ada beberapa kelemahan penggunaan handheld meter ini. Pertama, anda perlu mengeluarkan biaya extra untuk membeli alat ini. Kedua, anda tidak bisa mendekatkan alat ini ke objek-objek tertentu. seperti pemain konser di panggung, atau ke pipi mentri yang sedang press conference. lol.

ditulis oleh: Erwin Herianto

15 Maret 2011

Memaksimalkan Hasil Foto dengan Kamera Saku

Kalau bicara soal kemampuan dan kualitas kebutuhan komersial jelas berbeda karena kamera saku memang diciptakan bukan untuk kebutuhan fotografi komersial kecuali beberapa merek tertentu yang sudah mempunyai brand produk di dunia. Pada kenyataanya yang terjadi di Negara Indonesia kamera saku memang lebih banyak di gunakan oleh keluarga, instansi, UKM untuk keperluan dokumentasi biasa menggunakan mode auto kemudian selebihnya kamera di biarkan begitu saja.

Beberapa bulan terakhir ini, setidaknya saya bisa menyalurkan hobi foto-foto dengan kamera saku saya merk casio exilim dengan 10 x zoom. Hasilnya cukup lumayan bagus dan eye-catching. Dengan kamera pocket atau kamera saku anda juga masih bisa memotret objek yang ingin anda abadikan, dengan hasil yang bagus. Hebatnya lagi kamera saku jaman sekarang sudah terbilang canggih karena banyak fitur yang terdapat dalam kamera DSLR sudah diterapkan pada kamera saku. Hanya saja orang awam masih beranggapan bahwa kamera saku tak sebanding dengan kamera DSLR. Berangkat dari beberapa kali hunting foto yang saya lakukan, berikut adalah tips memaksimalkan hasil objek foto dengan menggunakan kamera saku.

1. Setting pada ISO
ISO ini berfungsi untuk menyesuaikan sensitivitas terhadap cahaya. Biasanya ISO yang terdapat dalam kamera saku antara 100-1000. Untuk mengatur ISO diusahakan menyesuaikan intensitas cahaya, semisal memotret objek pada malam hari atau pada ruangan dengan cahaya yang gelap maka setting ISO pada angka yang tinggi kisaran 500-1000. Begitu juga sebaliknya, pada saat cahaya berlebihan atau siang hari (outdoor) ISO kita setting pada angka kecil biasanya antara 100-200.

2. Gunakan Tripod
Memang sedikit ribet untuk menggunakan tripod namun fungsi tripod adalah mengurangi goyang karena posisi kamera lebih stabil. Kesulitanya adalah pada saat memotret objek yang bergerak karena kamera tidak fleksibel. Namun bagi anda yang menyukai objek pemandangan tripod sangat saya anjurkan.

3. Jangan memaksakan Digital Zoom
Dalam kamera saku ada dua jenis zoom, yaitu Optical Zoom dan Digital Zoom. Sangat dianjurkan tetap menggunakan Optical Zoom, karena pembesaran pada ukuran subjek dilakukan oleh komponen gelas optic yang terdapat di dalam lensa kamera. Cara kerjanya sama seperti teropong.
Kesalahan yang sering terjadi adalah pada penggunaan Digital Zoom. Biasanya untuk mengejar objek yang jauh penggunaan Optical Zoom diabaikan. Perlu diketahui bahwa Digital Zoom tidak melakukan pembesaran pada ukuran subjek, Digital Zoom hanya melakukan pemotongan area gambar sekitar subjek dan hanya mengembangkan ukuran foto. Efek yang dihasilkan jika anda menggunakan fasilitas Digital Zoom adalah gambar yang dihasilkan tidak memunculkan detail alias tidak tajam. Efek lain yang timbul adalah adanya noise pada gambar.

4. Scene Mode
Penggunaan scene mode sangat saya anjurkan karena selain cepat kita tidak terlalu direpotkan oleh settingan kamera. Berikut beberapa contoh dengan Scene Mode, Daylight dapat digunakan untuk memotret di siang hari. Cloudy untuk memotret pada kondisi cuaca mendung. Beach digunakan pada saat anda memotret pantai.

5. Komposisi Pada Objek Foto
Komposisi foto lebih singkatnya adalah penempatan objek maupun pemilihan background. Anda jangan hanya terpaku pada satu penempatan objek di tengah saja, usahakan untuk mencoba penempatan objek di pinggir atau sudut tertentu.

6. Pencahayaan Dan Penggunan Flash (Blitz)
Usahakan mendapatkan cahaya ruang yang cukup atau terang. Dalam hal ini penggunaan flash atau blitz lebih baik dikurangi kecuali memang kondisinya sangat gelap dan intensitas cahayanya terlalu rendah.

7. Fitur Makro
Fitur ini dapat digunakan untuk memotret bunga atau benda-benda kecil lainya. Penggunaan fitur makro lebih maksimal untuk objek kecil karena auto focus dapat bekerja pada jarak yang dekat sehingga menghasilkan detail yang bagus.

8. Auto Focus
Untuk hasil yang tajam dan focus yang baik usahakan pada saat akan memotret objek anda wajib menekan ½ tombol shutter