CINTA

Satu hal yang Aku tidak Suka dengan Cinta, adalah Semakin Aku Menyangkalnya Semakin Dia Membuatku Jatuh Cinta

HARAPAN

Jika Kamu Memfokuskan Dirimu Pada Apa yang Tertinggal di Masa Lalu, Maka Kamu Tak Akan Pernah Bisa Melihat Apa yang Ada Di Depanmu

MASALAH

Menghindari Masalah Yang Kamu Hadapi itu, Sama Seperti Kamu Menghindari Kehidupan yang Harus Dijalani

PENYESALAN

Jangan Menyalahkan Atas Keinginan Apapun yang Tak Terwujud. Daripada Menunggu, Lebih Baik Kamu Berusaha Mewujudkannya

FAHAMI

Kalian Mungkin Mengenaliku, Tapi Tidak Memahamiku Sepenuhnya

INFO ANYAR | UAS Mata Kuliah Hukum Bisnis dilaksanakan tanggal 10-06-2016 pukul 14.00 - 15.30 | RKAKL Online Klik Disini | Chek in Online Garuda Klik Disini | Cek Garuda Miles Klik Disini | Materi MK Hukum Bisnis, Lihat Pada Menu Materi Kuliah Hkm. Bisnis |

Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan

05 April 2015

Renungan di 45 Tahun Usiaku

Hari ini, tepat usiaku 45 Tahun. Angka empat lima, kata orang adalah simbol pencapaian sekaligus refleksi dalam kehidupan kita. Bahkan ini adalah lampu kuning dalam kehidupan kita. Pada usia inilah kita mulai ditantang untuk melihat seberapa jauh impian-impian serta hidup kita telah dioptimalkan. Jangan-jangan sampai pada usia ini, Anda masih terus berpikir, "Ah, nanti saja" atau "Masih banyak waktu".

Pada angka ini mestinya Anda mulai melihat adanya pencapaian, perwujudan potensi yang membuat Anda cukup optimistis dengan apa yang telah Anda lewati. Jika belum banyak yang Anda` realisasikan, saatnya bagi Anda untuk tancap gas, lebih bersungguh-sungguh serta 'take massive action' (mengambil tindakan besar/masif yang luar biasa).

Sebab, kalau pada usia ini pun Anda belum melakukannya, ada kemungkinan Anda tidak akan pernah lagi mewujudkannya.

Ingat di usia ini belumlah terlambat. Hanya lampu kuning agar Anda lebih efektif menggunakan waktu Anda. Agar Anda lebih fokus serta lebih serius memikirkan kehidupan Anda.

Apakah dari arti nama tersebut..?? Mungkin anda juga tahu apa arti dari Spirit = semangat 45 = tahun kemerdekaan Republik Indonesia..tanah air ku..hasil dari jerih payah para pahlawan yang tidak bosan memperjuangkan dan mempertahankan Hak dari penjajah.

Spirit 45 semangat berjuangan,dalam menjalani hidup ini membunuh rasa putus asa yang hanya dapat merugikan diri sendiri...untuk apa kita hidup..??? ..jawaban ada pada diri kita masing-masing..!! manusia hidup sudah pasti mempunyai masalah hidup.maka dari itu anggaplah masalah itu sebuah tantangan yang harus bisa kita pecahkan.

Semangat 45 juga identik dengan semngat nasionalisme dan patriotisme. 45-merupakan sumber kehidupan bagi perjuangan bangsa Indonesia yang berisi kekuatan batin dalam merebut kemerdekaan, menegakkan kedaulatan rakyat, serta mengisi dan mempertahankannya. Adapun hal-hal yang terkandung  dalam jiwa semangat ’45 adalah sebagai berikut.
  • Pro Patria dan Primus Patiralis, artinya mencintai tanah air dan mendahulukan kepentingan tanah air.
  • Jiwa solidaritas dan kesetiakawanan dari semua lapisan masyarakat terhadap perjuangan kemerdekaan.
  • Jiwa toleransi atau tenggang rasa antaragama, antarsuku, antargolongan, dan antarbangsa.
  • Jiwa tanpa pamrih dan bertanggung jawab.
  • Jiwa ksatria dan kebesaran jiwa yang tidak mengandung balas dendam.
Maka, nilai-nilai yang terkandung dalam semangat ’45 sebagai perwujudan keikhlasan, menopang diri dan kehidupan manusia untuk :
  • Semangat menentang dominasi asing dalam segala bentuknya, terutama penjajahan dari suatu bangsa terhadap bangsa lain.
  • Semangat pengorbanan seperti pengorbanan harta benda jiwa raga.
  • Semangat tahan derita dan tahan uji.
  • Semangat kepahlawanan.
  • Semangat persatuan dan kesatuan.
  • Percaya pada diri sendiri.

40 - 45 Tahun dalam Islam

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (Q.S. al-Ahqâf: 15)

Menurut para mufassir, usia 40 tahun merupakan usia dimana manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosional, karya, maupun spiritualnya. Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih menapaki usia dewasa penuh. Apa yang dialami pada usia ini sifatnya stabil, mapan, kokoh. Perilaku di usia ini akan menjadi barometer pada langkah usia selanjutnya.

Dalam laman Tempo.co sebagaimana dikutip situs Huffington Post edisi 12 Maret 2012, menuliskan Para peneliti dari Warwick Medical School di University of Warwick menemukan bahwa partisipan dalam penelitian mereka mengaku memilik kualitas kehidupan mental yang lebih baik ketika mereka mencapai usia pertengahan sementara mengalami penurunan kualitas kehidupan fisik.

Studi ini menganalisis gaya hidup dan pola kesehatan lebih dari 10 ribu orang di Amerika dan Inggris serta meneliti kualitas kehidupan mental dan fisik mereka, maupun status kesehatan mereka dengan melihat faktor-faktor seperti kesehatan secara umum, fungsi sosial, kesehatan mental dan ambang nyeri.

“Sudah jelas bahwa kualitas hidup secara fisik orang yang bertambah usianya semakin memburuk tetapi yang menarik adalah bahwa kesejahteraan mental mereka ternyata tidak memburuk bahkan meningkat,” ungkap Dr. Kanda Ngianga-Bakwin dalam pernyataannya.

“Kami menduga bahwa hal ini terjadi karena kemampuan untuk mengatasi masalah semakin baik ketika seseorang bertambah usia dan cenderung untuk mempunyai mekanisme internal yang lebih baik dalam mengatasi masalah ketimbang orang muda,” kata Dr. Kanda.

40 jadi titik awal evaluasi keberhasilan (life begin at fourthy). Usia 40 tahun dengan demikian adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih menapaki masa dewasa penuh yang disebut dengan usia dewasa madya (paruh baya) atau kuhulah. Hal ini sesuai dengan pendapat pakar psikologi seperti Elizabet B. Hurlock, penulis “Developmental Psychology”. Katanya, “masa dewasa awal” atau “early adulthood” terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kira usia 40 tahun. Selanjutnya adalah masa setengah baya atau “middle age”, yang umumnya dimulai pada usia 40 tahun dan berakhir pada usia 60 tahun. Dan akhirnya, masa tua atau “old age” dimulai sejak berakhirnya masa setengah baya sampai seseorang meninggal dunia. Fasenya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyebut periode kanak-kanak itu mulai lahir hingga baligh, muda mulai dari usia baligh sampai 40 tahun, dewasa usia 40 tahun sampai 60 tahun, dan usia tua dari 60-70 tahun.

Dalam hadits dijelaskan "Seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai “tawanan Allah” di bumi. (H.R. Ahmad).

Dalam dunia karir, nabi Muhammad mulai mengemban misi kenabian. Begitu juga dengan para pemimpin negara, di banyak negara ditetapkan, untuk menduduki jabatan-jabatan elit yang strategis, seperti kepala negara, disyaratkan bakal calon harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat sendiri tampak cenderung baru mengakui prestasi seseorang secara mantap tatkala orang itu telah berusia 40 tahun. Soekarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44 tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47 tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.


Penutup

Jika Anda berusia di bawah 17 tahun, ini menjadi renungan bagi Anda bagi masa depan Anda nanti. Jikalau Anda berusia lebih dari 45, ketahuilah ini menjadi lampu kuning bagi Anda bahwa waktu produktif Anda semakin redup. Sementara bagi Anda yang berusia 17 hingga 45, life to your fullest, gunakan potensi Anda seluas-luasnya. Itulah masa terbaik bagi Anda untuk belajar, berkarya serta menunjukkan potensi-potensi Anda.

Semangat 45 adalah sikap dimana seseorang tidak gampang menyerah,tetap berusaha,dan tetap bersemangat menjalani hal apapun yang bersifat positif.

10 Juni 2012

Karakter Bangsa Dan Ideologi “WANI PIRO?”


Ingat iklan sebuah produk Rokok yang sok-sok an membantu tapi ujungnya minta pelicin?. “Pengen sogokan hilang dari muka bumi”, kemudian dijawab :”itu bisa diatur, wani piro?". Meskipun tidak ada hubungannya antara rokok dengan kalimat tersebut, dialog tersebut memiliki sebuah makna alias sindiran terhadap perilaku masyarakat mulai dari pejabat pemerintah sampai masyarakat biasa yang selalu UUD (ujung-ujungnya duit). Setanlah yang biasanya merayu manusia untuk melakukan kesalahan termasuk suap/korupsi, lantas bagaimana kalau setan yang meminta suap? Setan sudah kehilangan pekerjaan dan berekspansi dengan pekerjaan manusia karena pekerjaannya banyak yang telah diambil alih oleh manusia, Naga Bonar bilang “Apa Kata Dunia?” Tulisan ini menjadi bagian dari KEGALAUAN saat menyimak hasil seminar internasional "Character Building; Problems, Implementation and Solutions". Tiga guru besar bertaraf internasional berbicara di sana tentang apa dan bagaimana membangun karakter.

Wani piro atau berani berapa, tentu maksudnya adalah uang. Untuk apa? Jawabannya kepentingan. Kepentingan manusia mulai dari urusan perut sampai urusan prestise dan aktualisasi. Urusan perut teradi pada saat kita pergi ke pasar dengan kepentingan untuk membeli kebutuhan pokok, terjadi tawar menawar yang alot dan biasanya diakhiri dengan kalimat, ya sudah Anda berani berapa? Praktek wani piro di sini tentu tidak mendatangkan masalah karena dilakukan terbuka dan tidak ada pihak yang dirugikan. Praktek wani piro yang merugikan terjadi guna melancarkan sesuatu urusan/masalah meskipun awalnya tersumbat. Anda punya urusan baik bisnis, masalah hukum, pajak, sampai urusan sepele kuncinya adalah duit, dengan fulus semua menjadi mulus. Praktek wani piro ini terjadi di semua lembaga pemerintahan baik di eksekutif, legislative maupun Judikatif. Berapa banyak gubernur,walikota, bupati, anggota DPR/DPRD, jaksa, hakim dan pengacara yang masuk penjara karena persoalan uang. Coba lihat satu kasus saja yaitu kasus Gayus Tambunan, bermula dari hanya urusan pajak kemudian melebar dan menyeret pejabat di lembaga penegakan hukum. Dari institusi kejaksaan, kasus gayus menyeret nama Cirrus Sinaga begitu juga di kepolisian menyeret nama Arafat Enanie dan Kompol Iwan Siswanto. Pengacara Gayus yaitu Haposan Hutagalung juga ikut terlibat dan korps majlis hakim diwakili oleh hakim Asnun. Semua pihak tersebut pada awalnya hanya bertanya wani piro pada Gayus dan dijawab dengan milyaran rupiah oleh Gayus. Hal itu juga berlaku terhadap sumber uang Gayus yang berasal dari permainan pajak Gayus dengan perusahaan-perusahaan yang bermasalah dengan pajak.Bahkan, parahnya lagi, gaya yang ditirukan pemeran iklan wani piro berbuntut juga pada sedikit saja kekuasaan seseorang, langsung pasang badan. Para penjumput uang kebersihan di pasar saja, berani menekan pedagang kaki lima untuk ngatur cicilan lapak trotoar hanya berbekal kata, "wani piro...?" Separah itu kah...?

Betapapun saat ini ada banyak kasus yang saling lempar batu sembunyi tangan (kadang lempar baju sembunyi di taman) semakin memperkuat keyakinan di mata masyarakat. Keyakinan semua masyarakat Indonesia adalah, bahwa kasus Gayus serta kasus-kasus lainnya yang terungkap hanyalah fenomena gunung es, masih terlalu banyak praktek wani piro yang tidak terungkap atau tidak akan pernah terungkap. Pelaku yang tertangkap hanya sedang sial atau ditumbalkan oleh atasannya untuk menutupi sindikat yang lebih besar lagi. Hal tersebut diperkuat oleh kasus Nazaruddin, kalau nyanyiannya itu merdu dan itulah fakta sebenarnya tentu sangat mengerikan karena pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Pada saat wawancara via skype dia sedikit menjelaskan kasus-kasus lain selain wisma atlet dan hambalang, meskipun dia enggan menyebutkan siapa saja mafia di dalamnya. Kengerian ini tentu tidak hanya para pihak yang terlibat tetapi juga pada scenario memuluskan kepentingan tersebut dari hulu sampai hilir termasuk manajemen resikonya, siapa yang ditumbalkan dan diselamatkan?. Kasus Nazaruddin adalah urusan duit yaitu pembagian proyek-proyek APBN, mau menang tender syaratnya si A dapat berapa, B berapa dan seterusnya, semakin tinggi dan pentingnya seseorang maka semakin besar uang yang harus disetorkan. Urusan Nazaruddin juga nyerempet ke kongres partai Demokrat, dimana pengakuannya bahwa Anas Urbaningrum tidak mungkin menang tanpa duit sekitar $ 20 juta US yang bersumber dari APBN. Belum lagi kasus Hambaalang yang saat ini mencuat.

Fenomena Wani piro tidak hanya menjadi kanker pemerintahan pada stadium 4 atau kritis, tetapi lebih dari itu, wani piro sudah menjadi idiologi di tengah-tengah pudarnya idiologi Pancasila. Lima sila yang digali dan dirumuskan oleh Bung Karno betul-betul hanya menjadi hiasan di dinding sekolah dan kantor pemerintahan. Tindakan-tindakan melanggar hukum seperti korupsi adalah tindakan yang tidak mencerminkan seseorang mengamalkan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Keyakinan seseorang terhadap Tuhan seharusnya dapat menjadi lampu merah di dalam hatinya untuk tidak melakukan korupsi. Bagi yang masih percaya Tuhan seharusnya malu kepada RRC yang komunis yang katanya tidak bertuhan, mereka sangat ketat dalam urusan tindakan korupsi sampai di hukum mati (terakhir RRC menghukum mati 2 orang pejabat korup). Indonesia, adakah koruptor yang dihukum mati? Rasa-rasanya masih jauh, dimajukan ke persidangan saja berbelit-belit, meskipun dihukum masih dapat fasilitas di dalam penjaranya. Suap, gratifikasi atau korupsi adalah bentuk-bentuk perbuatan seseorang yang beridiologi wani piro. Idiologi ini terbentuk akibat semakin sistematisnya pengaruh gurita kapitalisme di Indonesia, hasilnya semua dapat diukur dengan fulus. Idiologi wani piro, hanya mempunyai satu-satunya sila yaitu sila Keuangan Yang Maha Kuasa, selanjutnya bisa diatur. Pengikut idiologi ini menempatkan uang sejajar dengan sila pertama pancasila yaitu Tuhan. Di dalam pandangannya, Tuhan hanya bersifat abstrak yang kekuasaannya hanya terbatas pada urusan-urusan akhirat, tetapi di dunia nyata perannya diganti oleh Uang yang kekuasaannya meliputi semua aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara

Dari Ungkapan Walfajri (salah satu peserta seminar) saat menanggapi para pemateri dengan konstalasi Idiologi wani piro setidaknya dapat saya ambil benang merah bahwa makna di balik kata wani piro mempunyai empat karakteristik. Pertama; materialistic. Di dalam pikiran Pengikut idiologi ini hanya satu yaitu uang. Sekolah, bekerja dan melakukan aktivitasnya hanya berorientasi pada uang semata bukan sebagai ibadah dan mencari keridhoan Tuhan. Harapan dibentuk oleh uang bukan oleh dorongan jiwa dan tekad serta konsitensi yang sangat kuat, ada uang seperti punya segalanya, tidak punya uang seperti tidak punya harapan apapun. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan uang, tetapi sudut pandang dan perlakuan terhadap uang yang harus dirubah dengan tidak menempatkan di atas segalanya. Karakteristik yang kedua yaitu bekerja dengan pamrih. Membantu seseorang akan dilakukannya apabila ada uang masuk ke rekening pribadinya atau ada balas jasa. Termasuk dalam mendukung seseorang untuk suatu posisi, tidak berdasarkan kepribadian, track record, dan program yang ditawarkan tetapi berdasarkan jumlah rupiah yang paling besar alias wani piro. Karakter yang Ketiga adalah selalu menyepelekan masalah. Dalam pandangannya jangan terlalu takut dan risau dengan permasalahan meskipun berhubungan dengan hukum atau penjara.

Keyakinannya adalah semua masalah tersebut dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat dengan uang. Faktor uang menjadi solusi dari semua persoalan meskipun sebenarnya tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan uang. Masih terngiang di kuping saya saat dalam sebuah perjalanan, rekan saya menerobos traffict light yang seharusnya berhenti. Saat kekhawatiran muncul dalam diri saya karena takut ditilang, dengan entengnya dia menjawab "jangan terlalu pelit lah, paling cuman gocap (lima puluh ribu rupiah) untuk sekali pelanggaran". Saya betul-betul tercengang mendengarnya, banyak makna dari kalimat tersebut tapi satu diantaranya adalah orang tersebut jelas menyepelekan masalah dengan uang meskipun sedang berurusan dengan polisi dan penegak hukum lainnya. Karakteristik yang keempat dari idiologi wani piro yaitu berorientasi hasil. Sepatutnya manusia hanya berada di dalam wilayah proses, tetapi idiologi ini menyebabkan manusia sibuk untuk masuk pada wilayah hasil. Proses tidak lagi menjadi sebuah substansi dari sebuah perjuangan yang bernilai besar dalam menggapai sesuatu. Oleh karena hasil yang dipikirkan, maka apapun akan dilakukan demi mencapainya termasuk memakai jalan pintas. Mau jadi PNS tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan soal ujian CPNS dengan benar, katanya cukup dengan menyediakan uang sedikitnya 120 juta saja.

Masalah suap menyuap bukan lagi menjadi karakter individu tetapi lebih ke masalah sosial bawaan sistem yang diterapkan oleh negara ini. Demokrasi yang diterapkan negara ini telah menyuburkan karakter suap menyuap ini. Coba kita hitung harga politik yang menyebabkan suap menyuap ini menjadi subur. Untuk mendudukkan seseorang atau partai berkuasa membutuhkan pendanaan yang sangat besar. Ingin menjadi bupati saja bisa menghabiskan bermilyaran rupiah apalagi selevel provinsi atau pusat. Oleh karena itu, individu atau partai tersebut membutuhkan sponsor yang kuat dari pihak swasta yang kita kenal dengan pengusaha baik dalam maupun luar negeri. Dari jalinan inilah tercipta simbiosis mutualisme. Ketika partai atau individu itu telah menjabat, maka anggaran negara menjadi sasaran untuk“kongkalikong” yang akhirnya terkuak dalam kasus-kasus korupsi dan suap menyuap. Entah pada bagian mana kita dapat memotong idiologi wani piro sehingga tidak terus-terusan merusak pola fikir masyarakat. Perlu keputusan politik yang komprehensif yang mencakup kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Penegakan hukum menjadi kunci meredam idiologi wani piro dalam konteks masalah pelanggaran hukum seperti suap dan korupsi. Pendekatan agama dan budaya berada pada wilayah mereorientasi pola fikir masyarakat terutama dalam menjalani hidup di bumi ini.

Bisa jadi, ketidakadilan terhadap masyarakat kecil disebabkan karena mereka tidak bisa menjawab pertanyaan wani piro?

Pandangan Islam

Dalam Islam, ideologi wani piro tak jauh dari pengertian risywah. Risywah secara terminologis berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya untuk memenangkan perkaranya dengan cara yang tidak dibenarkan atau untuk memperoleh kedudukan. Di dalam ayat Al-Quran memang tidak disebutkan secara khsusus istilah sogokan atau risywah. Namun Imam al-Hasan dan Said bin Zubair menafsirkan ungkapan Al-Quran yaitu `akkaaluna lissuhti` sebagai risywah atau sogokan.

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama mengenai haramnya suap (risywah). Dari Tsauban ra, Rasulullah melaknat penyuap, penerima suap, dan perantaranya. (HR. ahmad). Negara berhak memberikan hukuman yang berat guna memberikan efek jera bagi pelaku suap menyuap. Selain penerapan dari segi formal konstitusi, hukum Islam perlu dijadikan landasan oleh individu-individu dan kelompok-kelompok di masyarakat. Karena mereka juga lah yang akan menjadi penopang dan pengawas dari penegakan hukum.

Lemahnya pengawasan masyarakat terhadap penegakan hukum positif yang diberlakukan di negara ini, karena mayoritas masyarakat kita “buta” hukum. Mereka akan mengerti jika ternyata melanggar atau ada peristiwa yang diangkat ke ruang publik dan melibatkan hukum. Tetapi coba bandingkan jika hukum Islam yang diterapkan, mayoritas umat Islam telah mempelajari sumber hukum Islam sejak dini (kecil) dengan mempelajari Al Quran dan sunnah. Pendidikan hukum Islam akan lebih mudah dilakukan dibandingkan hukum konstitusi Belanda yang dianut oleh bangsa ini. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam tentu akan lebih baik jika negara mengadopsi hukum-hukum Islam. Inilah salah satu solusi untuk menghilangkan penyakit suap meyuap dalam masyarakat yaitu dengan penerapan Islam.

Wani Piro, jangan pernah jadi guyonan apalagi dilaksanakan....

--------Best Regard----------


---Aghaku---

Sumber 

1. Fikri Habibi
2. Rahmat Blog
3. Ayok

23 Maret 2012

Menulis Apa Ya Hari Ini...?

Boleh Jadi...akhir Tahun 2011 momentum aku mulai otak-atik blog lagi. Kehadiran fesbuk (jujur) cukup mengganggu rutinitas kegiatan ngeblog. Ada yang berbeda antara ngeblog sama Ngefbi. Ngeblog melatih logika dan nalar kita untuk membuat sebuah tampilan web menjadi ciamik dengan mempelajari bahasa HTML/Javascript, sehingga saya yang awam dengan pemograman web...menjad semakin penasaran. Ngefbi...hanya butuh menuliskan apa yang ada dalam hati..., tanpa harus memikirkan apa dan bagaimana tampilan jadinya.

Nah...hari ini, aku dihadapkan pada keinginan menulis, tapi gak tau mesti nulis apa. padahal seorang Penulis profesional pernah menyarankan bagi para penulis pemula atau orang yang bercita-cita menjadi penulis untuk menulis setiap hari, meski hanya sebentar. Hal ini menjadikan menulis sebagai bagian dari rutinitas harian Anda dan membuat kemampuan menulis Anda semakin terasah tajam. “Writing is not my hobby, it’s a part of my life…” kata Jonru.

Mungkin, untuk memotivasi saya (juga anda) agar mau menulis setiap saat, boleh nih kita simak tulisan kang Agus Pribadi di Blog Kompasiana bahwa tunggulah keajaiban jika anda mau menulis antara lain :

1. Menulis menjadi pekerjaan yang semakin ringan dilakukan.
2. Saat membaca tulisan-tulisan sendiri, rasanya tak percaya bisa menuliskannya.
3. Bisa menerbitkan buku.
4. Tulisan kita bisa dimuat di koran.
5. Bisa menjadi terkenal.
6. Dan lain sebagainya

Demikian yang disampaikan kang Agus Pribadi, SELAMAT MENCOBA

14 Maret 2012

Ada Apa Rahasia Dibalik Jaket Putih

INILAH.COM, Jakarta – Para peneliti baru saja menemukan fakta mengejutkan mengenai jaket putih. Efek saat orang mengenakan jaket putih ternyata bisa sangat membantu manusia. Penasaran?

Menurut para peneliti di Northwestern University, mengenakan jaket putih bisa membuat Anda lebih berkonsentrasi pada pekerjaan dan mengurangi kesalahan yang timbul. Selain itu, para peneliti juga menemukan adanya hubungan antara manusia dengan cara berpakaiannya.

Hasil studi ini ditemukan setelah para peneliti ini melakukan penelitian pada 58 relawan dalam serangkaian uji yang setengah relawan mengenakan jaket lab berwarna putih dan lainnya, selain putih. Demikian seperti dikutip DM.

“Pakaian yang kita kenakan tak hanya memiliki kekuatan pada orang lain, ternyata pada diri kita juga. Kesimpulan utamanya, pengaruh pakaian tergantung pada arti simbolis dan pengalaman fisik pemakainya. Nampaknya, ada hal khusus pada pengalaman fisik saat mengenakan pakaian,” kata salah satu peneliti, Adam Galinsky. [mor]

INILAH.COM

25 Februari 2012

Krisis Kewargaan dan Legitimasi Negara

Sejauh ini, telanjur mapan pemahaman yang menempatkan masyarakat sipil (civil society) sebagai kekuatan yang lahir untuk mengontrol kekuasaan negara. Negara yang menindas, antidemokrasi, dan sewenang-wenang dianggap sebagai penyebab berkembangnya fenomena masyarakat sipil, yang dalam perkembangannya demikian identik dengan keberadaan lembaga swadaya masyarakat.

Pemahaman ini sebenarnya berbeda dengan pengertian awal masyarakat sipil yang justru menempatkan negara dan tatanan politis sebagai bagian integral dari fenomena masyarakat sipil. Kita misalnya dapat merunut karya klasik Aristoteles, Politics, dengan kata koinonia politike yang dipergunakan untuk menjelaskan kondisi masyarakat yang beradab dan berdasarkan hukum bersama vis-a-vis kondisi masyarakat yang tanpa tatanan, hidup dalam situasi barbar perang semua melawan semua. Dalam perkembangannya, kata koinonia politike ini bermetamorfosis menjadi kata politica communicatio, communitas politica, civilis communitas, societas civilis, hingga akhirnya menjadi civil society. Namun semuanya merujuk pada pengertian yang sama: pemerintahan negara republik, komunitas hidup bersama, dan tata sosial yang beradab.

Tatanan beradab lahir karena kesadaran bahwa manusia tidak dapat seterusnya hidup berdasarkan naluri-naluri alamiah yang menempatkan individu bak serigala bagi sesamanya. Meminjam penjelasan Richard Hooker (1554-1600), masyarakat warga sesungguhnya terbentuk melalui logika negatif, dengan mekanisme leisure of evil: untuk mengatasi situasi saling melanggar dan menyakiti, tak ada cara lain kecuali bersama-sama mengembangkan pemerintahan yang otoritatif untuk mengatur kehidupan bersama.

Dengan demikian, "musuh" masyarakat sipil sesungguhnya bukanlah negara an sich, melainkan kondisi tanpa tatanan dan hukum rimba. Sebagaimana kemudian juga dijelaskan John Locke (1632-1704), problem masyarakat sipil adalah naluri binatang (state of nature) manusia dan pamer individualitas tanpa batas. Negara yang otoritatif dan hukum yang berwibawa justru menjadi tujuan dari fenomena masyarakat sipil. Meskipun negara yang otoriter dan tidak semena-mena dalam perjalanannya juga menjadi bagian dari problem masyarakat sipil, antagonisme antara masyarakat sipil dan negara tidak semestinya dilihat sebagai sesuatu yang permanen.

Dalam konteks Indonesia saat ini, koreksi pemahaman itu menjadi relevan. Yang kita hadapi sekarang notabene bukanlah sosok kekuasaan yang otoriter, despotik, dan menindas. Terkait dengan masalah kekerasan dan ketidakadilan sosial, yang kita hadapi justru fenomena negara yang terkesan rapuh dan mengalami disorientasi. Negara yang kelihatan ragu-ragu dalam menegakkan hukum dan keadilan terlambat mengambil tindakan-tindakan desisif guna melindungi hak hidup, hak beragama, dan hak politik rakyatnya serta sering sembrono dalam mempertahankan ketahanan pangan nasional dan pengelolaan sumber daya alam yang adil.

Insiden kekerasan yang marak belakangan merupakan cermin frustrasi masyarakat atas kondisi tersebut. Ketika otoritas resmi tak lagi dianggap mampu menegakkan keadilan, jalan kekerasan pun ditempuh sebagai ekspresi diri. Di Mesuji, si lemah tak segan-segan menggorok leher sesama si lemah yang kebetulan menjadi centeng si kuat. Di Bima, masyarakat tak segan-segan memblokade pelabuhan, meskipun mereka tahu tindakan ini membuat sengsara banyak orang. Tindakan anarkistis ditempuh karena rakyat kecil frustrasi atas sikap acuh tak acuh negara terhadap hak hidup warganya.

Sikap acuh tak acuh negara terhadap hak hidup warganya ini kemudian dapat dijelaskan dari perspektif hegelian. Sebagai puncak perkembangan dari fenomena masyarakat sipil, negara mewajibkan setiap orang dalam teritori nasional melepaskan ikatan-ikatan tradisional untuk melebur ke dalam satu identitas: warga negara. Peraturan perundang-undangan kemudian mengatasi segala hukum keluarga, adat, dan agama. Konsekuensinya, semakin sempit peluang bagi warga untuk mengklaim kepemilikan tanah berdasarkan hukum adat atau hak pengelolaan alam berdasarkan ikatan-ikatan alamiah.

Persoalannya, setelah mencabut warganya dari ikatan-ikatan tradisional, negara seakan-akan membiarkan mereka masuk ke dalam struktur sosial yang timpang. Kesamaan hak di depan hukum hanya fatamorgana. Bukan rahasia lagi bahwa pelayanan publik dan jaminan hukum di semua lini birokrasi menjadi privilese bagi mereka yang kaya atau dekat dengan kekuasaan. Kemudahan-kemudahan pelayanan pemerintahan menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Alih-alih menciptakan kesetaraan, hukum dan pelayanan publik justru menciptakan segregasi antara yang miskin dan yang kaya, yang lemah dan yang kuat. Yang kaya semakin kaya karena dapat membeli semua jenis pelayanan pemerintah, yang miskin semakin miskin karena hampir selalu kalah dalam perlombaan nepotisme birokratis.

Persoalan berikutnya, hukum nasional juga belum menjamin pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. Tanah adat terus-menerus diserobot oleh industri besar perkebunan dan pertambangan. Sumber daya alam dieksploitasi tanpa signifikansi bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. Dan hampir selalu terjadi, aparatus negara diam-diam berkongsi dengan pemodal besar. Sekadar gambaran, mungkinkah perusahaan perkebunan yang sedang bersengketa dengan warga sekitar membentuk pam swakarsa tanpa sepengetahuan aparat keamanan setempat? Mungkinkah perusahaan pertambangan yang merusak lingkungan beroperasi tanpa restu dari pemerintah setempat?

Kekerasan yang terus terjadi, dan kelambanan menangani kompleksitas masalah pertanahan, sumber daya alam, serta kebebasan beragama pada akhirnya menunjukkan krisis kewargaan. Negara gamang dalam menjaga tatanan sosial yang beradab, sehingga banyak sengketa diselesaikan melalui pertunjukan state of nature: adu kuat antara yang kaya dan yang miskin, antara yang mayoritas dan yang minoritas. Krisis terjadi karena yang mengaitkan warga negara yang satu dengan yang lain bukan lagi komunikasi dan interaksi yang didasarkan pada empati atau solidaritas, tapi sikap sewenang-wenang, ambisi menguasai, dan perlombaan kepentingan partikular diri. Kalaupun terjadi komunikasi di antara mereka yang bertikai, pemerintah, aparat, dan para pemimpin politik, bukan dalam rangka mencari solusi bagi kebaikan bersama, tapi dalam rangka memobilisasi opini publik dan politik pencitraan.

Dengan sendirinya krisis kewargaan ini juga menunjukkan krisis legitimasi negara, karena keberadaan negara tak lain dan tak bukan untuk menjaga tatanan sosial yang beradab itu. Ironisnya, dalam banyak kasus, negara sepertinya justru melegalkan sikap sewenang-wenang para pengusaha besar dan kelompok mayoritas agama pada kasus yang lain. Dan melawan "legalisasi" ini, dengan mudahnya akan dicap sebagai tindakan melawan hukum. Jika kehidupan publik kenyataannya masih dilandasi oleh self-interest, naluri menguasai dan kesewenang-wenangan, lalu apa fungsi pemerintahan dan hukum? Jika pemerintah belum mampu menjamin rasa aman dan hak hidup warganya, dan jika hukum kenyataannya justru memfasilitasi penindasan warga yang kuat terhadap warga yang lemah, apa kemudian yang melegitimasi keberadaan negara?

Sumber : Tempo.co
Ditulis Oleh Agus Sudibyo, Wakil Direktur Yayasan SET Jakarta,


24 Januari 2012

Efek Psikologis Facebook bagi Kesehatan Mental

Beberapa jam lalu saya dapat broadcas massage BBM (istilah di BBM "BC"), yang mengabarkan ada seorang anak SMP yang meninggal dunia karena keranjingan BBM-an. Otak kanan anak tersebut terkena radiasi akibat PING dan getaran dari BBM. Namun saya kurang meyakini kebenaran berita tersebut. Tetapi, benar atau tidak atau kabar tersebut sekedar hoax, wallahu'alam, mungkin setidaknya perlu diantisipasi.

Begitu pula dengan Facebook, beberapa waktu lalu muncul laporan mengenai tanda-tanda orang kecanduan Facebook atau situs jejaring sosial lainnya, misalnya Anda mengubah status lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman. Anda juga rajin membaca profil teman lebih dari dua kali sehari meski ia tidak mengirimkan pesan atau men-tag Anda di fotonya.

Laporan terbaru dari The Daily Mail menyebutkan, kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace, twitter juga bisa membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental. Hal ini memang bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring sosial, di mana pengguna diiming-imingi untuk dapat menemukan teman-teman lama atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan Anda saat ini.

Suatu hubungan mulai menjadi kering ketika para individunya tak lagi menghadiri social gathering, menghindari pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan, mereka menjadi gelisah karena “berpisah” dari komputernya.

Si pengguna akhirnya tertarik ke dalam dunia artifisial. Seseorang yang teman-teman utamanya adalah orang asing yang baru ditemui di Facebook atau Friendster akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi secara face-to-face. Perilaku ini dapat meningkatkan risiko kesehatan yang serius, seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia (kepikunan), demikian menurut Dr. Aric Sigman dalam The Biologist, jurnal yang dirilis oleh The Institute of Biology.

Pertemuan secara face-to-face memiliki pengaruh pada tubuh yang tidak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormon seperti oxytocin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen, termasuk gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan respons terhadap stres, beraksi secara berbeda, tergantung pada seberapa sering interaksi sosial yang dilakukan seseorang dengan yang lain.

Menurutnya, media elektronik juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. “Salah satu perubahan yang paling sering dilontarkan dalam kebiasaan sehari-hari penduduk Inggris adalah pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari. Kurang dari dua dekade, jumlah orang yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi berlipat.”

Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, Anda dapat mengalami cidera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer. Jika pada malam hari Anda masih sibuk mengomentari
status teman Anda, Anda juga kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi dari sistem kekebalan. Seseorang yang menghabiskan waktunya di depan komputer juga akan jarang berolahraga sehingga kecanduan aktivitas ini dapat menimbulkan kondisi fisik yang lemah, bahkan obesitas.

Tidak heran jika Dr Sigman mengkhawatirkan arah dari masalah ini. “Situs jejaring sosial seharusnya dapat menjadi bumbu dari kehidupan sosial kita, namun yang kami temukan sangat berbeda. Kenyataannya situs-situs tersebut tidak menjadi alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup, melainkan alat yang membuat kita salah arah,” tegasnya.

Namun, bila aktivitas Facebook Anda masih sekadar sign in, mengonfirmasi friend requests, lalu sign out, tampaknya Anda tak perlu khawatir bakal terkena risiko kanker, stroke, bahkan menderita pikun.

12 September 2011

HM. Saleh; Memahami Empat Istri, Sebuah Renungan

Tulisan ini sepenuhnya saya adopsi dari Renungan HM. Saleh (Ketua MUI Kota Metro) dalam catatan di aku Facebooknya. Tulisan ini sarat dengan filosofi kehidupan yang harus dicermati. Itulah kenapa saya kemudian angkat kembali dalam posting di Blog dengan tidak mengurangi rasa hormat saya ke beliau, saya mohon izin untuk saya publish kembali...mudah-mudahan memberi manfaat bagi pembaca.

Istri saya ada empat. Ini yang tidak banyak diketahui orang banyak. Tak apa... bukan itu intinya. Intinya adalah kejadian berikut ini, ketika saya menanyakan loyalitas mereka pada saya satu persatu. Saya tidak yakin semua istri saya adalah orang yang setia dengan saya. Atas dasar itulah kemudian saya tanya mereka satu persatu.

Saya urut dari yang paling akhir, dengan satu pertanyaan saja: "andai aku mati, sampai kemana kau akan mengantarku?"

Istri keempat saya menjawab: "saya hanya bisa mengantar kanda sampai pagar rumah saja..." menyedihkan...! Tapi tak apalah. Itu sebuah jawaban yang jujur darinya.

Lalu istri ketiga saya menjawab: "saya akan antarkan kanda sampai ke pemakaman, dan setelahnya aku pulang kembali ke rumah.." lumayan setia dibanding istri keempatku.

Kemudian istri kedua membuatku terharu, ia menjawab: "aku akan ikut abang dalam liang lahat, aku mau ikut dikubur bersama abang...." Oh, betapa trenyuhnya hatiku.

Dan yang lebih membuatku trenyuh adalah jawaban istri pertamaku: "aku akan mengantarkan abang menghadap Sang Khaliq Illahi Robbi......" cukup mebuatku tercengang atas kesetiaan istriku yang pertama ini.

Kita semua sesungguhnya mempunya istri empat. Tak hanya saya saja.

Istri keempat itu adalah harta benda, inilah sebuah gambaran dalam realitas sosial bahwa istri yang ke empat ini biasanya digambarkan dengan seorang wanita yang masih muda belia, cantik, menggiurkan, seluruh manusia mendambakan untuk mendapatkannya. Kadangkala malam jadi siang. Kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki untuk mengusahakannya. Tentu setelah direnungkan, sewaktu jasad kita meninggalkan rumah, ternyata kesetian istri ke-empat (harta benda) ini hanya sampai di depan rumah (pagar)saja, nah inilah kesetiaan harta benda yang kita perjuangkan selama hidup kita.

Istri ketiga adalah keluarga, sanak-famili dan handai taulan serta teman-teman.Pada saat kita masih berada di sisi mereka, mereka ini adalah orang-orang yang setia sekali menemani kita. Istri/Suami yang dulul mengatakan bahwa akan sehidup semati namun pada kenyataan setelah kita wafat/meninggal, mereka akan datang dalam pemakaman kita, dan setelahnya mereka akan kembali dan tenggelam dalam rutinitas duniawi mereka. Entah mau mengingat kalian yang terbaring sendiri di gelapnya kubur atau tidak.

Dan istri kedua adalah jasad yang kalian miliki. Jasad kita yang dulu disanjung-sanjung karena kecantikan atau kegantengannya, atau kekuatannya, namun kini setelah jasad itu terbujur kaku maka kemudian jasad inipun ikut dikuburkan dengan kita. Jasad yang dahulu menjadi wadah kita untuk hidup, kini yang menemani jasad kita adalah ulat dan kemudian habis ditelan cacing.

Terakhir adalah istri pertama yakni amal ibadah dan amal kebajikan kita. Inilah istri yang akan mengantarkan kita dengan sangat setia menghadap Sang Khaliq, Allah SWT... Ringkasnya, kembalilah setia pada istri pertama pertama, karena dialah istri yang paling setia. Tentu saja, tanpa harus mengkhianati istri-istri yang lain. Merekapun perlu dijaga karena sudah menjadi tangung jawab kita.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi kita untuk terus melakukan kebaikan dimana dan kapanpun. Wassalam.



05 April 2010

Bersikap Bijak Menghadapi Perubahan Komunikasi Verbal Ke Komunikasi Maya

Situs jejaring sosial yang marak belakangan ini seperti facebook, twitter dan google plus adalah produk-produk teknologi yang kini sedang digemari banyak kalangan termasuk anak-anak dan remaja. Dengan layanan ini kita dapat berkomunikasi dengan teman lama, memperluas jaringan pertemanan, ataupun sekedar mengetahui keadaan atau status teman atau kerabat. Apalagi, Indonesia menempati urutan ke dua terbesar dalam penggunaan media jejaring social ini.

Di sinilah pentingnya peranan semua pihak baik orang tua, institusi pendidikan, pemerintah dan masyarakat untuk mengawasi anak, remaja dan muridnya, khususnya bagai yang masih dibawah umur untuk membekali mereka menghadapi perkembangan teknologi. Kita seharusnya memberikan edukasi kepada anak tentang bagaimana menyikapi perkembangan teknologi yang sangat cepat untuk digunakan semaksimal mungkin untuk kegiatan positif. Jejaring sosial juga mempunyai dampak yang positif dan juga dampak negatif.

Sama seperti di dunia nyata, kehidupan di media sosial pun seperti mozaik, heterogen, dan penuh dinamika. Ada tokoh utama, panutan, dan selalu menjadi rujukan. Sang Idola di media sosial. Ada juga yang menonton saja. Diam tapi tetap menyimak. Ada juga suporter fanatik, atau sekedar hura-hura saja. Ada yang berteriak lantang, namun tidak sedikit yang hanya bergumam saja, nyaris tak terdengar. Ada identitas yang transparan, namun lebih banyak juga yang tersembunyi atau samar-samar. Nama alias pun bertebaran. Tujuan dan motif bermedia sosial pun sepertinya berbeda-beda. Alasan dan argumentasi beragam. Perbedaan itu mungkin saja menimbulkan perdebatan, membentuk sekat-sekat yang memilah dan memilih siapa mereka dan siapa kami. Kami berbeda dengan mereka. Ada yang adu jotos dan saling mencaci maki, ada juga yang saling memuji dan membela. Media sosial pun akhirnya seolah representasi, atau jangan-jangan, cermin dari hidup dan kehidupan di dunia nyata. Kata-kata pun seolah cermin dari peran dan karakter dari penggiat media sosial. Benarkah?

Ya, hiruk-pikuk dan dinamika media sosial menjadi skeptisme tentang kemungkinan timbulnya modal sosial bagi para penikmatnya. Ketika puluhan ribu, bahkan puluhan juta orang tergabung dalam sebuah media sosial, akhirnya keunikan dan kreatifitas menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengarungi kehidupan di media sosial. Artinya, belum tentu setiap penikmat media sosial mendapatkan modal sosial yang setara. Kadar atau takaran modal sosial yang diperoleh pun berbeda-beda.

Dampak positif jejaring sosial :

  1. Anak dan remaja dapat belajar mengembangkan ketrampilan teknis dan sosial yang sangat dibutuhkan di era digital seperti sekarang ini. Mereka akan belajar beradaptasi, bersosialisasi dengan publik dan mengelola jaringan pertemanan.
  2. Memperluas jaringan pertemanan. Berkat situs jejaring sosial ini anak menjadi lebih mudah berteman dengan orang lain di seluruh dunia. Meskipun sebagian besar diantaranya tidak pernah mereka temui secara langsung.
  3. Anak dan remaja akan termotivasi untuk belajar mengembangkan diri melalui teman-teman yang mereka jumpai secara online, karena mereka berinteraksi dan menerima umpan balik satu sama lain.
  4. Situs jejaring sosial membuat anak dan remaja menjadi lebih bersahabat, perhatian dan empati. Misalnya memberikan perhatian saat ada teman mereka berulang tahun, mengomentari foto, video dan status teman mereka, menjaga hubungan persahabatan meski tidak dapat bertemu secara fisik.


Dampak negatif jejaring sosial :

  1. Anak dan remaja menjadi malas belajar berkomunikasi di dunia nyata. Tingkat pemahaman bahasapun menjadi terganggu. Jika anak terlalu banyak berkomunikasi di dunia maya.
  2. Situs jejaring sosial akan membuat anak dan remaja lebih mementingkan diri sendiri. Mereka menjadi tidak sadar akan lingkungan di sekitar mereka, karena kebanyakan menghabiskan waktu di internet. Hal ini dapat mengakibatkan menjadi kurang berempati di dunia nyata.
  3. Bagi anak dan remaja, tidak ada aturan ejaan dan tata bahasa di situs jejaring sosial. Hal ini membuat mereka semakin sulit untuk membedakan antara berkomunikasi di situs jejaring sosial dan di dunia nyata.
  4. Situs jejaring sosial adalah lahanyang subur bagi predator untuk melakukan kejahatan. Kita tidak akan pernah tahu apakah seseorang yang baru kita dikenal anak kita di internet menggunakan jati diri yang sesungguhnya atau tidak.

Rose Mini (psikolog dari Universitas Indonesia) pernah mengungkapkan bahwa, remaja khususnya lebih suka mengungkapkan mood nya di media jejaring sosial dibandingkan dengan mengungkapkannya kepada orang-orang terdekat, misala orang tua. Hal ini, menurut Rose Mini, karena mereka mengharapkan adanya perhatian dari para teman-teman yang ada di dalam media jejaring sosial itu. Semua itu ada kaitannya dengan pengakuan sosial dan pencarian eksistensi diri sebagai bagian dari karakristik generasi muda. Padahal sebenarnya media jejaring sosial bukan menjadi solusi untuk bisa menghilangkan bad mood itu. Maka disinilah diperlukan adanya pengendalian diri dari pada generasi muda dalam memanfaatkan sosial media.