INFO ANYAR | UAS Mata Kuliah Hukum Bisnis dilaksanakan tanggal 10-06-2016 pukul 14.00 - 15.30 | RKAKL Online Klik Disini | Chek in Online Garuda Klik Disini | Cek Garuda Miles Klik Disini | Materi MK Hukum Bisnis, Lihat Pada Menu Materi Kuliah Hkm. Bisnis |

27 Maret 2016

Pianemo, Pesonamu Tak kan Kulupa

Raungan mesin kapal kayu berhenti dan perahu mulai merapat. Tidak ada yang terdengar kecuali riak ombak kecil yang mendera sisi kapal dan perlahan-lahan melepaskannya. Burung-burung beterbangan dari ujung pohon kecil di salah satu pulau tak berpenghuni. Ya, Anda tiba di Pianemo di Kepulauan Raja Ampat! Surga fanorama dengan kekayaan bukit dan bawah laut paling lengkap di Bumi.
Raja Ampat atau 'Empat Raja' sebanrnya nama yang diberikan untuk pulau-pulau indah tersebut. Sebuah nama yang berasal dari mitos lokal. Empat pulau utama yang dimaksud itu adalah Waigeo, Salawati, Batanta, Misool yang merupakan penghasil lukisan batu kuno.
Raja Ampat terkenal dengan gugusan pulau karang, salah satunya adalah Pianemo. Di sinilah Anda bisa melihat pulau-pulau karang dengan aneka ukuran yang ada dalam satu kawasan luas. Airnya biru jernih dan pemandangannya menakjubkan.
Masyarakat di sekitar Pianemo menyebutnya sebagai 'Wayag Kecil'. Ini karena pemandangannya dari atas bukit karang terjal, mirip gugusan pulau di Wayag yang telah mendunia itu, tapi dalam ukuran yang lebih mini.
Dari ibukota Kabupaten Raja Ampat, Waisai, perjalanan ke Pianemo dapat ditempuh dalam 2 jam perjalanan dengan speed boat. Selama perjalanan, lautan biru menghampar bagai tak terbatas. Beberapa kali diselingi siluet pulau berbukit hijau, hutan perawan, dan burung terbang menukik memburu ikan.

Sekitar pukul 08.00 WIT, kapal yang ditumpangi Tim Perencana PTKIN sudah mendekati perairan Pianemo. Memang sudah terlalu siang untuk berburu sunrise, tapi sinar matahari pagi yang memantul di laut dan menerangi gugusan bukit karst di Pianemo tetap tidak kalah indah untuk dinikmati.
Birunya air laut pun secara perlahan berganti hijau bening saat mendekati gugusan pulau karang, dan merapat ke dermaga.

Menakjubkan. Bukit-bukit karang terjal yang di atasnya ditumbuhi pepohonan menyambut kami saat memasuki Pianemo. Gugusan pulau karang kecil di sini umumnya tak berpenghuni. Karang-karang terjal itu ternyata masih 'hidup', masih terus tumbuh dan bukit-bukit itu semakin tinggi setiap tahun. Begitulah yang dikatakan pemandu kami sama seperti yang dijelaskan orang-orang lokal.
Ada tiga bukit yang biasa dijadikan jalur trek di sini. Bukit berketinggian sekitar 15 meter di Tanjung Bintang, Bukit Gundul yang tingginya sekitar 30 meter, dan yang paling tinggi 40 meter.
Tangga kayu yang sengaja dibuat masyarakat untuk membantu para wisatawan, sangat jarang dipublikasikan para netizen.
"Ada 323 (anak) tangga untuk sampai ke atas," kata penduduk asli yang berdagang disitu.


Benar saja, setelah tiba di puncak Bukit Pianemo, pemandangan indah pun terhampar di hadapan. Gugusan pulau karang yang melingkar seakan membentuk laguna hijau di tengah birunya samudera. Di kejauhan, laut tampak keemasan karena pantulan sinar matahari.
Lalu apa yang pertama kami lakukan saat pertama kali menginjak anjungan kayu di Bukit Pianemo? Tentu saja foto-foto dan berselfie ria
Tiba di Bukit Piaenmo, maka kegembiraan sudah dapat dirasakan. Sontak terdengar seketika orang yang baru datang di sini memuji kebesaran nama Tuhan-nya karena mata dan hatinya dipikat pemandangan alam yang luar biasa. Bila tidak Anda temukan respon itu maka diam terkesima adalah bukti seseorang telah ditawan setitik surga yang jatuh di lautan yang jernih sebening kristal dan ombak lembut menyapu pasirnya yang putih.


Dalam prasasti yang ditempatkan sebelum menuju puncak Pianemo, nama pulau ini tertulis dengan sebutan PAINEMU,  yang merupakan gugusan pulau-pulau sebagai rekaman peristiwa geologis dalam kurun waktu 15 juta tahun yang lalu. Nama PAINEMU, dikalangan netizen jauh lebih dikenal dengan sebutan PIANEMO.
Salah satu titik keindahan lanskap yang memadukan birunya laut dan vegetasi hijau pada gugusan bukit karst terhampar di Pianemo. Gugusan pulau karst yang ada di Pianemo menghadirkan pemandangan yang tak kalah indah layaknya Wayag, gugusan bukit karst yang menjadi ikon Raja Ampat dan lebih dikenal wisatawan.
Hanya saja, bentuk gugusan pulau karang di Pianemo lebih kecil. Karena itu banyak yang menyebut Pianemo sebagai "mini Wayag".
“Di sini bagus kakak!” sahut ramah seorang pemandu wisata lokal dengan logatnya yang khas. Kata-kata awal itu menandakan bahwa pengunjung telah sampai di salah satu tempat dengan fanorama perbukitan terbaik di dunia. Jika tidak sedang memandu wisatawan, pemandu lokal ini adalah seorang nelayan biasa. Nelayan tersebut terbiasa dengan orang luar yang datang berkunjung, konon mereka sangat ramah terutama jika diberi buah pinang atau permen (patut Anda coba). Cara ini telah terkenal dimana dengan memberikan permen dianggap bentuk sopan santun dan mampu mencuatkan senyum sang nelayan.
Pemandangan Raja Ampat seperti dalam mimpi tetapi ini bukanlah ilusi. Beberapa rekan perencana PTKIN mencemplungkan diri menyelam ke bawah laut setelah pendakian ke bukit pianemo, yang jika perhatikan dengan detail hewan laut yang menyapa. Bisa jadi kuda laut kerdil mendekati jemari Anda seakan ingin menyambut berjabat tangan.
Sayangnya, sinar matahari yang bersinar di latar belakang, menjadi backlight yang membuat wajah tidak terlihat saat difoto. Tak ada rotan akar pun jadi. Tanpa harus terlihat wajah, foto siluet pun jadi.
Selain itu, sayang juga jika kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan ini dari viewfinder kamera atau layar handphone. Membiarkan mata menikmati lanskap Raja Ampat secara lepas, tentu ini jadi pilihan terbaik.
Ada pemandangan lain yang tak kalan menarik yang sempat juga kami abadikan. Tulisan dengan menggunakan bahasa dan dialek setempat tapi masih bisa kami mengerti maksudnya. Bahkan, kata-kata dalam tulisan itu, walaupun sebagai bentuk peringatan, tapi ditulis dengan nada dan gaya bahasa HUMOR. sebuah tulisan canda sarat makna, yang mencirikan warga papua, bukan warga yang ada dalam banyak pikiran kita, tapi mereka sangat humoris dan familier.

Setelah sekitar 1,5 jam menikmati keindahan Raja Ampat dari Bukit Pianemo, kami pun beranjak turun. Di dermaga, alangkah menyenangkan untuk menikmati kelapa muda yang dijual seharga Rp. 15.000, sambil menunggu kapal speedboat siap berangkat.

Sebelum meninggalkan Pianemo, sesaat kami berkeliling gugusan pulau, berlayar dari laguna ke laguna. Air hijau toskanya seperti memanggil-manggil kami untuk segera terjun ke dalamnya. Beberapa wisatawan asing tampak menikmati snorkeling di sini. Sampai akhirnya kami berpindah kembali ke kapal ferry cepat.

Pulau Saonek

Kapal cepat yang kami sewa, sebelum kembali ke dermaga rakyat, membawa kami untuk mampir ke salah satau pulau menunikan ibadah shalat zuhur. Pulau Saonek, itulah nama pulau tersebut. Saat kami jejakkan kaki di dermaga, seperti hal nya dermaga laut lainnya, tak ada hal yang terlalu istimewa.
Pulau Saonek. Sebuah pulau kecil yang dulunya adalah pusat pemerintahan Raja Ampat. Kaki mulai melangkah menuju pesisir sisi barat untuk melihat ada apa saja di sana. Beberapa penduduk nampak bermalas-malasan di atas balai-balai sambil menikmati semilir angin laut. Beberapa nampak sedang memperbaiki perahu dan jaring. Ada juga yang sibuk mengasuh anak-anak yang tak mau lepas dari gendongan ibunya.

Senyum sapa ramah mereka membuat kami diterima di pulau indah ini. Saya dan rombongan berjalan menuju tengah perkampungan. Rumah-rumah berjajar rapi dengan beraneka macam bentuk rumah. Rumah yang tertata rapi walau hanya dengan bilik papan dan atap asbes berjejer di sepanjang jalan yang dibuat berpetak-petak layaknya perumahan modern. Benar saja, inilah ibu kota 12 tahun yang lalu. Uniknya di sini tidak ada kendaraan roda empat, dan hanya ada sepeda motor saja dan itu pun hanya sesekali lewat.

Ketakjuban kami bertambah manakala di tengah perkampungan berdiri masjid besar berdiri kokoh dengan ornamen yang cukup indah.  Kami terpaku saat melihat bangunan megah berwarwana hijau dengan kubah yang menjulang dan lebih tinggi dari pohon kelapa. "ini masjid bantuan dari arab saudi" kata salah satu penduduk setelah kami melaksanakan shalat zuhur berjamaah. Sungguh luar biasa. Masjid ini menjadi ikon Saonek karena begitu menonjol dibanding dengan bangunan lain.

Selesai melaksanakan ibadah shalat zuhur dan ashar , selain menangkap fanorama dengan memotret setiap moment, seaat kami berkeliling dengan Prof. Ilyas (Ketua STAIN Sorong) dan bercengkerama dengan penduduk setempat. Nampaknya, sebagian penduduk yang ada di pulau Saonek ini, merupakan penduduk pendatang dari Bugis, Makassar. Prof. Ilyas pun mengajak mereka ngobrol ringan dengan  bahasa bugisnya, karena beliau juga sebagai warga pendatang di Sorong – Papua Barat.
Satu yang tertanam dalam benak kami saat itu, tak ada lagi cengkrama sebegitu dekat di masyakarat modern. Ego hedonis telah mendahulukan kebuntuan bermuwajahah dan bermusyawarah.
Tepat jam 3, saya dan rombongan kembali lagi ke pelabuhan rakyat Kota Sorong, untuk kembali ke hotel tempat kami menginap di Mariat Hotel.
Keindahan yang alami, seolah benar-benar tidak tersentuh telah menjadi daya tarik utama di sini. Tidak perlu ungkapan keindahan langit yang biru atau pulau yang menghijau subur, karena apa yang ada di atas daratan dan di bawah lautnya akan mengatakan kepada Anda “Selamat datang di Raja Ampat; inilah surga keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini.
Tidak diragukan lagi, Raja Ampat adalah laut yang paling kaya akan ikan yang pernah saya kunjungi.
Banyak cerita yang kami sharing, banyak kenangan yang kami simpan dan tak akan pernah terlupa. Mereka, rekan-rekan STAIN Sorong, masyarakat papua barat, nelayan kecil yang semakin menambah eksotisme pengalaman kami menjelajah. MY TRIP MY ESPEDE....

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar