INFO ANYAR | UAS Mata Kuliah Hukum Bisnis dilaksanakan tanggal 10-06-2016 pukul 14.00 - 15.30 | RKAKL Online Klik Disini | Chek in Online Garuda Klik Disini | Cek Garuda Miles Klik Disini | Materi MK Hukum Bisnis, Lihat Pada Menu Materi Kuliah Hkm. Bisnis |

02 Juni 2013

Meretas Pemahaman Isra’ Mi’raj ke dalam Konteks Keshalehan Sosial

Di tengah derasnya arus modernitas, seringkali manusia terlena dan larut dalam dekapan budaya materialisme, konsumerisme dan hedonisme. Nilai-nilai yang bersifat materi diagungkan, sementara nilai-nilai rohani diabaikan. Dari sisi materi mereka tidak kekurangan, bahkan berlimpah, tetapi sisi rohani mereka gersang, kering kerontang. Fisik mereka sehat, namun jiwa mereka kosong dan rapuh. Kenyataan inilah, yang pada gilirannya melahirkan manusia-manusia kosong, The Hollow Men, mereka tidak tahu lagi arah dan tujuan hidup ini.
Budaya materialis-hedonis hanya mengantarkan seseorang pada realitas yang mati, kering, dan kaku, karena segala yang ada di sekitarnya selalu diukur dengan materi, tidak lebih dari itu. Spiritualitas dan mentalitas mereka pun serba materialistik. Ini yang menyebabkan nurani mereka tumpul, dan sensibilitas nurani kemanusiaannya mati kutu, sehingga mereka cuek atas segala problem kemanusiaan yang sedang terjadi di tengah masyarakat.
Akibat tidak keseimbangan ini, menurut Dr. Ahmad Mubarok, dapat dijumpai dalam realitas kehidupan, terjadi distorsi nilai-nilai kemanusiaan, terjadi dehumanisasi yang disebabkan oleh kapasitas intelektual, mental dan jiwa yang tidak siap untuk mengarungi samudera peradaban modern (Ahmad Mubarok: 2000)
ISRA’ dalam kajian sejarah Islam berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW pada malam hari dalam waktu yang teramat singkat dari Masjid Aqsa di Yerusalem Palestina. Sedangkan Mi’raj berarti kenaikan Beliau dari Masjid Aqsa kea lam atas melalui beberapa tingkatan, menuju Baitul Makmur, Sidratul Muntaha, Arsy (Tahta Tuhan), dan Kursyi (Singgasana Tuhan) hingga menerima langsung wahyu Allah SWT yaitu perintah salat fardhu.
Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa penting yang menyertai perjalanan dakwah nabi Muhammad Saw. Dalam peristiwa ini, beliau diperjalankan dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsha, kemudian dari sana diangkat ke langit yang paling tinggi (sidrat al-muntaha) dan kembali lagi ke tempat semula dalam waktu semalam. Peristiwa tersebut mengundang perdebatan sekaligus keraguan di kalangan masyarakat Arab saat itu. Bagaimana mungkin Muhammad bisa melakukan itu?, sungguh tidak masuk akal!, itulah barangkali sanggahan keraguan yang dilontarkan oleh para pemimpin kafir-Quraisy. Wal hasil, para kafir-Quraisy pun tidak mempercayainya. Sikap keraguan juga sempat muncul dari sahabat dekat beliau. Satu-satunya sahabat beliau yang pertama kali mempercayainya adalah Abu Bakar –yang karena pembenarannya terhadap peristiwa tersebut ia lantas mendapat julukan as-Shiddiq.
Peristiwa tersebut terjadi pada 27 Rajab, 10 tahun setelah kerasulannya atau terjadi pada tahun 621 Masehi. Dalam sebuah riwayat yang dikisahkan oleh sepupu Nabi SAW, Hindun binti Abu Thalib, malam itu Rasulullah bermalam di rumahnya.
Seperti diceritakan dalam berbagai sumber, selepas shalat akhir malam (saat itu belum ada perintah salat fardhu, kira-kira pada saat sesudah ‘isya) beliau tidur dan kami pun tidur. Pada saat menjelang fajar, Rasulullah sudah membangunkan kami. Sesudah melaksanakan ibadah pagi bersama kami, beliau berkata: “Umm Hani, saya telah shalat akhir malam bersamamu sekalian seperti engkau lihat di lembah ini. Kemudian saya ke Baitul Maqdis (Yerusalem) dan salat di sana. Sekarang saya salah bersamamu kembali seperti yang engkau lihat”.
Hindun mengatakan: “wahai Rasulullah, janganlah menceritakan hal itu kepada orang lain. Orang-orang akan mendustakan dan menanggungmu lagi”. “Tetapi harus saya ceritakan kepada mereka” jawab beliau.
Tatkala peristiwa Isra’ Mi’raj disampaikan kepada penduduk Mekkah, kebanyakan mereka menyaksikan kejadian yang dianggap tak masuk akal. Mana mungkin Muhammad melakukan perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem pergi pulang dalam semalam. Apalagi dia sampai “terbang” ke langit, sesuatu yang sangat mustahil bagi seorang manusia.  Sehingga tidak sedikit dari mereka yang sudah menyatakan masuk Islam, kemudian berbalik murtad. Namun Abu Bakar, sahabat dekat Nabi orang yang pertama mempercayai kebenaran apa yang disampaikan Rasulullah. Karena dia yakin bahwa beliau tidak pernah berdusta.
Abu Bakar al-Shiddiq orang yang pertama kali mempercayainya mengatakan, “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benar adanya”. Pendekatan yang ditempuh Abu Bakar dalam memahami peristiwa ini adalah spiritualitas-imany, bukan rasionalitas-aqli seperti ditempuh kebanyakan masyarakat Arab pada saat itu.
Keyakinan Abu Bakar tersebut dipertegas dengan firman Allah akan kebenaran peristiwa tersebut dengan menurunkan firman-Nya dalam QS Al Isra’ ayat pertama: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagai tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.
Terlepas dari perdebatan yang terjadi di kalangan umat islam tersebut, bahwa peristiwa itu sampai kini terus di[ber]maknai dan diperingati oleh umat islam, baik lewat serangkaian acara dan haflah maupun tradisi ritual lainnya. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut cukup memiliki signifikansi tersendiri dalam praktek keberagamaan umat islam: kita berusaha mengambil sari ibrah darinya untuk dimanfaatkan dalam prilaku keseharian sebagai seorang yang beragama.
Peristiwa ini telah berabad-abad lamanya diperingati sebagai hari bersejarah di berbagai belahan dunia muslim dengan beragam acara ritualistik. Di Indonesia, Isra’ Mi’raj disambut dengan suka-cita, seperti hari-hari besar Islam yang lain. Setiap jatuh tanggal 27 Rajab, kaum muslim, memperingatinya dengan membaca kisah-kisah Nabi dalam al-Barzanji, dan nyanyian-nyanyian sanjungan kepada manusia agung ini. Ia juga dirayakan di masjid-masjid, pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat yang lain. Di Turki, malam Mi’raj diperlakukan sama dengan malam kelahiran Nabi. Di masjid-majid lampu-lampu yang dibungkus ornamen-ornamen kaligrafis yang indah dinyalakan, malam menjadi terang benderang. Anak-anak yang lahir malam itu seakan-akan memperoleh berkah. Orang tua mereka memberikan nama Mi’raj al-Din, Mi’raj Muhammad dan lain-lain. Di Kasymir, India, Isra’ Mi’raj disambut dengan nyanyian rakyat (folklor) yang berisi ucapan selamat datang dan penghormatan kepada Nabi yang selalu dirindui.
Motivasi tulisan ini barangkali mengajak pembaca untuk kembali meretas pemahaman yang kurang komprehensif dari apa yang didapat dalam perjalanan spiritual Nabi, yaitu shalat. Shalat dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Alexis Carrel, sebagaimana dikutip oleh Dr. M. Quraish Shihab, menggambarkan, “Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan masyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut”. (Quraish Shihab: 1995).
Komaruddin Hidayat (2000) mengatakan kesadaran vertikal-spiritual dan aksi-sosial itu disimbolisasikan dengan ucapan takbir di permulaan dan diakhiri dengan salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Keduanya merupakan bahasa performatif dan deklaratif bahwa setiap muslim yang selalu menegakkan shalat, baru akan bermakna shalatnya kalau dilanjutkan dengan sikap kepedulian sosial secara nyata.
Lalu, pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa masih saja terjadi banyak penyelewengan terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan. Bukankan dalam hadits Nabi tegas dinyatakan bahwa shalat akan mencegah perbuatan keji dan munkar. Bukan sedikit masyarakat muslim melaksanakan kewajiban shalat lima waktu, tapi kenapa masih saja belum bisa mewarnaia kehidupan sosialnya.
Mungkin patut disimak apa yang diungkapkan oleh Didi Junaidi HZ (2007) dalam opininya yang mengatakan bahwa memori kolektif masyarakat kita terlanjur berpegang pada asumsi dasar berpikir keagamaan yang selalu menekankan aspek “kesalehan pribadi”. Hal ini dapat kita jumpai dalam berbagai media keagamaan. Ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam berbagai forum pengajian bahwa, ”masyarakat akan lebih baik jika didukung oleh individu-individu yang baik”. Sekilas ungkapan ini benar adanya. Namun, kalau kita cermati lebih jauh, ungkapan tersebut ibarat pisau bermata dua. Kalau dipahami secara parsial, maka yang muncul adalah “kesalehan individu” yang acuh terhadap realitas sosial yang ada. Sementara, pemahaman sesungguhnya adalah dengan adanya “kesalehan individu” ini diharapkan akan tercipta “kesalehan publik” dan “kesalehan sosial”.
Tapi apa lacur, akibat pemaknaan masyarakat secara luas terhadap ungkapan tersebut lebih mengedepankan makna parsial. Sehingga “kesalehan publik” dan “kesalehan sosial” pada umumnya dianggap sebagai sesuatu yang ‘taken for granted’, jika “kesalehan individu” telah terbina secara kukuh dalam pribadi setiap muslim. Suatu keyakinan yang agak bersifat utopis untuk ukuran era sekarang.
Dampak lain dari pemahaman sepihak ini, pada gilirannya akan memunculkan sosok manusia yang saleh secara ritual, namun bobrok secara moral. Betapa tidak, mereka yang kelihatan taat beribadah, khusyu’ mendengarkan ceramah agama, namun tetap melakukan kejahatan publik; korupsi, kolusi, manipulasi, penyalahgunaan wewenang, dan serentet tindak kejahatan lainnya dianggap suatu hal yang biasa. Tidak tampak sedikit pun atsar dari ibadah shalat yang dilakukannya setiap hari.
Pada hakekatnya, lanjut  Didi, kalau kita mau merenung, dengan shalat kita diajak melakukan transendensi, merefleksi, mengapresiasi, serta menginternalisasi nilai-nilai moral Ilahi yang sangat mulia, dalam rangka memelihara eksistensi martabat manusia, yang oleh al-Quran disebut dengan istilah taqwa.
Semoga saja, tulisan yang penulis adopsi dari berbagai pendapat ini, memberikan pencerahan untuk kembali memaknai hakikat Isra’ Mi’raj dan mampu meretas belenggu pemahaman parsial menjadi pemahaman kolektif dari sisi keshalehannya. Amin

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar