INFO ANYAR | UAS Mata Kuliah Hukum Bisnis dilaksanakan tanggal 10-06-2016 pukul 14.00 - 15.30 | RKAKL Online Klik Disini | Chek in Online Garuda Klik Disini | Cek Garuda Miles Klik Disini | Materi MK Hukum Bisnis, Lihat Pada Menu Materi Kuliah Hkm. Bisnis |

31 Mei 2014

Kampanye Negatif dan Kampanye Hitam; Pilihan Bagi Orang Cerdas..?

Menjelang Pilpres tahun 2014 ini, marak sekali iklan politik dan berita di media massa maupun sosial media. Ada yang muatannya memuji-muji diri sendiri, mencitrakan sesuatu, menjanjikan sesuatu, mengkritik, menyindir, menuduh, membantah, menuding, menjelekkan, mengaburkan, mengalihkan, dan lain-lain.

Muhammad Qodari (Direktur Ekskutif Indo Barometer) berpendapat bahwa harus dibedakan antara negative campaign dan black campaign(kampanye hitam). Menurutnya, kampanye negatif tidak sembarangan, namun didasarkan pada fakta, sedangkan kampanye hitam tidak didasarkan pada fakta. Seorang kandidat dapat saja menuduh lawan politiknya melakukan korupsi, asalkan tuduhan tersebut berbasis fakta yang jelas. Contohnya kampanye negatif adalah kampanye untuk tidak memilih politisi busuk pada Pemilu 2004 lalu.(Hukum Online)

Kampanye Hitam (Black Campaign) adalah kampanye untuk menjatuhkan lawan politik melalui isu-isu yang tidak berdasar. Metode yang digunakan biasanya desas-desus dari mulut ke mulut dan sekarang ini telah memanfaatkan kecanggihan teknologi, multimedia dan media massa, demikian yang diartikan dalam laman glosarium.org.

Menurut Nelson Simanjuntak (Komisioner Badan Pengawas Pemilu /Bawaslu), kampanye bisa disebut sebagai kampanye hitam jika materi kampanye tidak sesuai dengan kenyataan atau mengada-ada. Isi kampanye cenderung mengandung fitnah dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Sementara, kampanye negatif adalah kampanye yang materinya nyata adanya atau pernah terjadinya. Namun, kenyataan tersebut biasanya berkaitan dengan hal-hal negatif menyangkut pasangan calon. Sehingga merusak citra pasangan calon presiden dan wakil presiden yang menjadi objek kampanye. (Republika.co.id 27 Mei 2014, 14:24 WIB)

Dengan kata lain kampanye negatif, adalah kampanye yang isinya memojokkan lawan, dengan data-data, dan berupaya memberikan penyadaran kepada awam akan bahaya partai yang jadi sedang berpotensi menang. Misalnya caleg yang memojokkan partai yang berpotensi menang pemilu. Menuding partai lawan partai pro wong cilik, tapi saat berkuasa dulu, presidennya jual BUMN, jual aset negara dengan harga murah, jadi antek asing. Tudingan itu dilengkapi data-data. Sebagiannya diplintir tentunya.

Sedangkan kampanye hitam, adalah kampanye negatif yang isinya menjelek-jelekkan lawan dengan hanya menyoroti keburukannya. Bahkan yang belum tentu buruk pun, diburukkan. Kampanye hitam juga tak ragu menyinggung SARA. Misalnya, menuduh capres pembohong, ingkar janji, non muslim, dan memperlakukannya sebagai penjahat. Padahal yang dituding, sedang berupaya memperbaiki negara dalam skala lebih tinggi. (Pos Kota News, 26 Maret 2014 03:08:42 WIB )

Achmad Suwefi dalam Kompasiana menyebutkan bahwa kampanye negatif berbeda dengan kampanye hitam, kampanye yang ditujukan kepada kandidat tertentu dengan pesan yang bersifat negatif berdasarkan data dan fakta yang ada serta relevan dengan kondisi kekinian. Bisa berupa background masa lalu sang kandidat , ketidakmampuannya dalam menangani berbagai masalah dan lain sebagainya( 18 April 2014 | 13:28)

Secara prinsip kampanye negatif merupakan keniscayaan dalam berpolitik, karena setiap kandidat akan melakukan dua hal utama, yaitu menonjolkan hal-hal yang baik terkait dirinya, dan sebaliknya menonjolkan hal negatif dari lawan politiknya. Kampanye negatif bermanfaat memberikan informasi yang memadai mengenai track record kandidat, menilai mereka dan selanjutnya memutuskan siapa yang akan dipilih atau tidak dipilih. Dalam hal ini Qodari menyayangkan karena dalam tidak adanya pembedaan antara kedua jenis kampanye tersebut, di mana dalam RUU ada upaya untuk menghalangi black campaign, namun justru juga dapat mematikan negative campaign.

Kampanye negatif dan kampanye hitam, sebenarnya dimata penulis keduanya sama dalam hal cara untuk meraih suara tetapi beda dalam esensinya. Kampanye Hitam cenderung mengarahkan hal negatif kepada calon atau kandidat yang tidak berdasarkan fakta alias tidak memiliki sumber data yang bisa dipertanggung jawabkan.

Kampanye negatif dan hitam yang dilakukan secara massive mampu memberikan perubahan cara pandang masyarakat akan partai dan kandidat yang akan dipilihnya, apalagi kalau diimbangi dengan mesin partai yang tidak maksimal melakukan counter terhadap kampanye tersebut (Kompasiana, 18 April 2014 | 13:28)

Lalu iapakah mereka yang melakukan kampanye hitam ? Menurut M. Fadhilah mereka yang melakukan kampanye hitam/negative adalah: 1) Mungkin mereka yang “terlalu cinta” dengan pasangan capres dan cawapresnya masing-masing. 2) Bisa juga mereka yang merasa menampakkan hal-hal baik dari capres-cawapres unggulannya masih kurang ampuh menarik simpati pemilih/publik oleh karena itu dicari juga keburukan calon lain. 3) Atau bisa juga mereka hanya latah, lihat teman share tautan-tautan, mereka bantu-bantu juga haha. 4) Bisa juga karena sudah diserang duluan jadi balas serangan, akhirnya jadi saling serang dan perang-perangan. 5) mereka yang bisa saja mulai panik/cemas karena tokoh yang mereka kagumi memiliki lawan yang mereka anggap lebih tangguh. Namun dari catatan sejarah ada hal yang menarik dalam kampanye politik di Indonesia, politisi yang “berhasil mencitrakan diri sebagai korban” seringkali justru malah dapat menuai banyak simpati dan suara.

Dibandingkan dengan ungkapan Amin Rais (entah karena keberpihakan kepada Prabowo atau bukan) yang mengasumsikan Pilpres 2014 seperti perang Badar yang mampu menyulut emosi dan sikap antipati terhadap Amin Rais sendiri dan kandidat presiden yang didukungngnya, ungkapan Anies Baswedan (terlepas dari keberpihakannya kepada Jokowi), memberikan suatu pandangan yang indah dan menenangkan masyarakat. “Apapun pilihan kita itu adalah karena kecintaan kita pada Indonesia dan komitmen kita untuk memanjukan bangsa tercinta ini. Dengan begitu pilihan ini tidak boleh menyebabkan permusuhan. Lawan beda dengan musuh. Lawan debat adalah teman berpikir, lawan badminton adalah teman berolah raga. Beda dengan musuh yang akan saling menghabisi, lawan itu akan saling menguatkan

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar