INFO ANYAR | UAS Mata Kuliah Hukum Bisnis dilaksanakan tanggal 10-06-2016 pukul 14.00 - 15.30 | RKAKL Online Klik Disini | Chek in Online Garuda Klik Disini | Cek Garuda Miles Klik Disini | Materi MK Hukum Bisnis, Lihat Pada Menu Materi Kuliah Hkm. Bisnis |

05 Juni 2016

Mewujudkan Kebaikan Puasa di Dunia Maya, Sebuah Renungan

Perkembangan Teknologi Informasi, seperti membuka jendela tanpa batas pandang. Bukan  hanya keterbukaan akses tapi juga kreativitas dan produktivitas penyedia menciptakan berbagai media tanpa saring seperti media sosial  Media sosial dalam berbagai bentuk atau channel, baik Facebook, Twitter, Instagram, Path, BBM, Line, WhatsApp, Google Plus, Youtube, dan sebagainya digunakan oleh Netizen (masyarakat dunia maya) untuk melakukan interaksi sosial, baik berbagi informasi atau sekadar menyampaikan keluh kesah dan kegalauan. Proses interaksi sosial lewat dunia maya ini terjadi setiap detik. Bahkan salah satu analis media sosial mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan interaksi sosial tertinggi di dunia per detik dalam penggunaan dunia maya khususnya media sosial.

Teori John W. Anderson dan Dale F. Eickleman dalam buku New Media in the Muslim World yang menyatakan adanya perubahan otoritas keagamaan yang diakibatkan dari penggunaan website. Meskipun demikian, pembentukan otoritas keagamaan baru pada Media sosial sedikit berbeda dengan yang terjadi pada penggunaan website.

Media Sosial dapat mempengaruhi perilaku keagamaan para penggunanya. Slama menambahkan, media sosial lambat laun mampu menggeser otoritas keagamaan di masyarakat. Para Ustadz di era media sosial dituntut mampu berkomunikasi secara aktif dan efektif.

Dalam catatan yang dirilis di http://www.industri.bisnis.com menyebutkan bahwa Media sosial di Indonesia sangat digandrungi oleh berbagai kalangan dan usia. Indonesia menjadi pemakai facebook terbanyak ke 4 di dunia, pengguna facebook di Indonesia mencapai 48,8 juta, sebuah angka yang besar.

Menjelang Ramadhan 1437 H tahun ini, ada baiknya untuk kita renungi tulisan Fathoni Ahmad (Pengajar di STAINU Jakarta) yang dimuat dalam portal Pendidikan Islam. Tulisan yang berjudul "Mewujudkan Kebaikan Puasa di Dunia Maya" menyoroti konten apa yang paling digemari oleh netizen adalah tulisan inspiratif dan konten keagamaan. Penyebab utama dari ketertarikan netizen akan konsten tulisan inspiratif dan konten keagamaan adalah Kurangnya pengetahuan agama dan keagamaan kerap kali membuat masyarakat dunia maya terjebak sehingga tidak jarang berdampak pada watak keras, sikap radikal, mudah menyalahkan, membatasi diri dari kehidupan sosial hingga pada titik kulminasi melalukan tindak kekerasan atas nama agama.

Berikut adalah tulisan lengkapnya.

Terkait dengan konten keagamaan yang terus menjadi primadona dalam kehidupan media sosial, momen Ramadhan atau bulan puasa juga dijadikan instrumen menyebarkan berbagai inspirasi keagamaan hingga wacana kontroversi berbagai hal yang berkaitan dengan puasa. Level dunia maya yang tadinya lekat (inheren) dengan religiusitas naik intensitasnya menjadi lebih religius.

Namun demikian, kondisi inheren ini tidak dibarengi dengan koherensi, yakni usaha mewujudkan keseimbangan sosial dengan sikap saling menghormati. Seakan pemahaman agama seseorang berdiri sendiri sehingga seolah berhak melakukan tindakan semena-mena dengan dalih menghormati bulan Ramadhan seperti aksi sweeping, melarang orang berjualan di siang hari yang dapat mengganggu kekhusyuan puasa umat muslim, dan tindakan-tindakan serupa. Materi ini yang menjadi salah satu menu di dunia maya tiap momen Ramadhan tiba. Selain dialektika penetapan awal puasa dengan metode rukyat maupun hisab.

Terkait dengan warung buka di siang hari yang dianggap bisa membuat orang tergoda, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memberi wejangan bahwa “jika kita merasa Muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa“. Puasa maupun tidak puasa merupakan pilihan setiap individu karena urusannya langsung kepada Allah. Namun, Gus Dur juga menekankan kepada setiap muslim agar tetap menyampaikan dakwah yang baik, artinya dakwah yang mengajak, bukan mengejek apalagi menginjak. Hal ini justru dapat memberikan refleksi penyadaran diri kepada setiap individu bahwa dirinya adalah seorang Muslim yang terkena kewajiban berpuasa.

Media Sosial dan Kebaikan Puasa

Momen bulan puasa tetap harus menjadi renungan bersama terkait aktivitas di media sosial atau di berbagai channel dunia maya secara keseluruhan. Hal ini tentu mempunyai korelasi bahwa kehidupan media sosial yang mempunyai karakter liar dan anarkis karena faktor interaksi sosial tidak langsung (indirect social interaction). Interaksi jenis ini kerap menimbulkan konflik horisontal yang berdampak pada kehidupan nyata karena media sosial juga dapat menciptakan kondisi nyata dalam kehidupan setiap individu maupun kelompok.

Netizen sebagai warga dunia maya juga mempunyai peran menciptakan kondisi yang baik dan tenang di bulan puasa. Perspektif dunia maya yang dapat menciptakan inspirasi dan gerakan di dunia nyata ini dapat dijadikan ladang dakwah oleh setiap individu untuk menciptakan ketenteraman di bulan puasa. Media sosial dan dunia maya tidak sepatut dan selayaknya didominasi oleh informasi dan berbagai konten negatif secara tekstual maupun verbal. Hal ini tentu harus diwujudkan setiap hari tidak hanya pada momen bulan puasa sehingga dapat menciptakan keseimbangan sosial (social  equilibrium).
Untuk dapat meniciptakan kondisi tersebut, harus ada upaya dari setiap individu sebagai subjek dunia maya untuk setia pada informasi-informasi positif. Misal dengan mengakses berbagai channel dan portal dari berbagai media, baik cetak, online, visual, dan audio visual yang menyediakan konten-konten positif untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut. Paradigma ini persis seperti ngaji pasaran yang dilakukan di berbagai pesantren, madrasah, majelis taklim, masjid, dan mushola. Bedanya pengakses media sosial bisa langsung membagikan informasi positif tersebut ke sesama pengguna secara viral.

Jangan dikira menciptakan kebaikan di media sosial tidak diganjar pahala, karena terbukti interkasi di dunia maya dapat menciptakan kondisi di dunia nyata. Di titik inilah kebaikan bulan puasa dapat kita wujudkan secara menyeluruh (komprehensif) di berbagai media kehidupan, termasuk di media sosial agar ibadah puasa tidak hanya ekadar ritual, tetapi juga mampu menciptakan dampak (impact) positif di tengah kehidupan digital dan natural. Selamat berpuasa Netizen!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar